RSS

Arsip Bulanan: Februari 2011

Telur dan Ikan

  1. Anatomi tentang telur, Komposisi yang dimiliki oleh telur dan ikan, Kualitas dan penentuannya pada telur dan ikan, Penyimpanan dan produk olahan pada telur dan ikan dan abnormalitas pada telur dan ikan

  1. 1. Mengetahui anatomi tentang telur
      1. A. Susunan Telur

Telur adalah produk komersil yang boleh dikonsumsi oleh manusia yang berasal dari unggas dan non-unggas. Susunan yang dimilki oleh telu adalah sebagi berikut :

1)   Kulit telur / kerabang / cangkang

2)   Selaput kulit telur

3)   Putih telur / albumen

4)   Kuning telur

5)   Rongga udara

  1. B. Gambar Anatomi Telur

Gambar 1. Bagian dari telur belum berembrio

  1. 2. Mengetahui komposisi yang dimiliki oleh telur dan ikan
    1. A. Komposisi Telur

Telur adalah sumber protein bermutu tinggi, kaya akan vitamin dan mineral. Protein telur termasuk sempurna, karena mengandung semua jenis asam amino esensial dalam jumlah cukup seimbang. Asam amino esensial sangat dibutuhkan oleh manusia, karena tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari makanan yang dimakan.

Telur juga mengandung vitamin A, vitamin B Kompleks, dan vitamin D. Di samping itu telur juga mengandung sejumlah mineral seperti zat besi, fosfor, kalsium, sodium, dan magnesium dalam jumlah yang cukup. Semua unsur ini sangat penting guna meningkatkan pertumbuhan tubuh pada anak-anak dan remaja. Anak balita setiap hari membutuhkan kurang lebih 15 gram protein hewani. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi apabila anak balita mengkonsumsi 2 butir telur ayam perhari. Protein sangat dibutuhkan untuk membangun sel tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Itulah sebabnya telur sering diberikan kepada anak kecil untuk membantu pertumbuhan badan, dan kepada orang yang dalam proses penyembuhan guna mengganti sel tubuh yang rusak. Macam-macam telur antara lain :

1)   Telur ayam kampung

2)   Telur ayam ras

3)   Telur burung puyuh

4)   Telur itik/bebek

5)   Telur Mentok

Setelah mengetahui tentang susunan dan komposisi kimia adri telur, sifat  dari telur itu sendiri adalah :

1)   Kulit telur sangat mudah pecah, retak dan tidak dapat menahan tekanan mekanisme yang besar, sehingga telur tidak dapat diperlakukan secara kasar pada suatu wadah.

2)   Telur tidak mempunyai bentuk ukuran yang sama besar sehingga bentuk ellipsnya memberikan masalah untuk penanganan secara mekanisme dalam suatu sistem yang kontinyu.

3)   Udara kelembaban relatif dan suhu dapat mempengaruhi mutu terutama kuning telur dan putih telurnya dan menyebabkan perubahan-perubahan secara teknis dan bakteriologis.

4)   Mutu isi bagaimanapun baiknya tetapi kenampakan luar berpengaruh dalam penjualan telur terutama mempengaruhi harganya.

Sebutir telur harganya sama dengan dua batang rokok namun serat dengan gizi dan vitamin untuk tambahan nutrisi ibu hamil/menyusui bisa didapatkan dari dua butir telur dan dua potong daging sapi per hari.

Tubuh kita sebenarnya butuh kolesterol cukup besar yaitu 1.000 s/d 1.500 gram sehari. Memakan telur dua butir sehari baru didapat 400 gram kolesterol, lebih dari itu kolesterol dalam telur berguna untuk membentuk garam-garam empedu yang diperlukan bagi pencernaan lemak yang berasal yang berasal dari pangan dan diperlukan sebagai komponen pembentukan hormon seksual.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang komposisi kimia pada telur, dicontohkan dibawah ini adalah komposisi kimia telur ayam adalah : Pada umumnya memiliki berat sekitar 50-57 gram perbutirnya, yang terdiri dari 11% bagian kulit telur, 50% bagian putih telur, 31% bagian kuning telur. Komposisi zat gizi telur ayam dalam 100 gram adalah sebagai berikut :

1)   Kalori (kal)             : 162,0                    6)  Fosfor (mg)           : 180,0

2)   Protein (g)              : 12,8                      7)  Besi (mg)               : 2,7

3)   Lemak (g)              :11,5                       8)  Vitamin A             : 900,0

4)   Karbohodrat (g)     : 0,7                        9)  Vitamin B              : 0,1

5)   Kalsium (mg)         : 54,0                      10) Air (g)                   : 72

( Direktorat Gizi DepKes RI, 1979 )

Tabel 1. Nilai Gizi Telur

Bahan Makanan Energi Protein Lemak Karbo Ca P Fe
Telur ayam 162 12.8 11.5 0.7 54.0 180 3.0
Telur ayam bagian kuning 361 16.3 31.9 0.7 147.0 586 7.0
Telur ayam bagian putih 50 10.8 0.0 0.8 6.0 17 0.0
Telur ayam lokal 196 13.0 15.3 0.8 67.0 334 3.3
Telur ayam ras 154 12.4 10.8 0.7 86.0 258 3.0
Telur bebek 202 12.5 16.4 0.0 100.0 347 5.5
Telur bebek (telur itik) 189 13.1 14.3 0.8 56.0 175 3.0
Telur bebek bagian kuning 398 17.0 35.0 0.8 150.0 400 7.0
Telur bebek bagian putih 54 11.0 0.0 0.8 21.0 20 0.0
Telur bebek diasin 195 13.6 13.6 1.4 120.0 157 2.0
Telur penyu 144 12.0 10.2 0.0 84.0 193 1.0

(Anggorodi, Ilmu makan ternak umum, 1987)

  1. B. Komposisi Ikan

Pada umumnya ikan telah diketahui sebagai sumber-sumber protein hewani. Prrotein ikan sangat diperlukan oleh manusia selain lebih mudah dicerna juga mengandung asam amino dengan pola yang hampir sama dengan pola asam amino yang terkandung dalam tubuh manusia. Komposisi kimia ikan sangat tergantung dari :

1)   jenis ikan (Spesies)

2)   musim penangkapan

3)   kematangan seksual

4)   jenis kelamin

5)   Kondisi Lingkungan(Laut atau tawar)

6)   Pakan ikan (Bila ikan produksi)

7)   Populasi

8)   Faktor penyakit ikan

Komposisi kimia yang terkandung dalam daging ikan sebenarnya sederhana. Oleh karena itu produk ikan hanya bertahan lebih pendek waktunya dibandingkan daging, susu dan telur. Lalu komposisi dari daging ikan adalah sebagai berikut :

1)   Air          : 60 – 84%

Tubuh ikan yang mengandung banyak kandungan air yaitu kurang lebih 80% (komponen utama) dan pH tubuh yang mendekati netral, merupakan salah satu keburukan dari ikan. Hal tersebut merupakan salah satu kerugian dari daging ikan. Kadar air yang tinggi dan pH mendekati netral, merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk dan mikroorganisme lain. Oleh karena itu ikan lebih mudah dan cepat membusuk dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya.

Kandungan air akan turun pada saat ikan lapar. Jika kandungaan air rendah, maka kandungan lemak tinggi. Titik beku daging bukan 0oC karena ada senyawa kimia terlarut maka suhunya menjadi -1,1oC. Pada suhu -8oC baru sekitar 90% air pada ikan yg membeku. Air dalam jaringan daging ikan terikat kuat oleh senyawa koloidal dan kimiami tidak mudah bebas (co. ikan segar). Kekuatan ikatan akan jauh berkurang apabila sudah terjadi pembusukan         sehingga air mudah bebas

2)   Protein               : 18 – 30%

Kandungan protein pada daging ikan cukup tinggi yaitu dengan rata-rata 20% dan tersusun oleh sejumlah asam amino yang berpola mendekati pola kebutuhan asam amino di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, lkan mempunyai nilai biologis  (NB) yang tinggi.  Berdasarkan hasil penelitian, daging ikan mempunyai nilai biologis sebesar 90%. Nilai biologis merupakan perbandingan dari jumlah protein yang dikeluarkan oleh tubuh. Artinya, jika misalnya dalam tubuh ikan ada 100% protein, maka 90% protein akan terserap oleh tubuh dan hanya 10% sisanya. Dalam daging ikan terdapat 3 kelompok protein yaitu :

a)    Salt soluble protein (SSP) : protein yang larut dalam larutan encer garam kuat dan tidak larut dalam air (aktomiosin)

b)   Water soluble protein (WSP): larut dalam air (albumin)

c)    Stroma protein: prot yg tdk larut dlm air dan lar. Garam, tdk larut dlm NaOh dan HCl (kolagen, elathin)

Dalam protein daging ikan itu sendiri terkandung macam proein yang menyusunnya yaitu terdiri dari:

a)    Protein sarkoplasma (miogen): 20-30%

b)   Protein miofibril: 65-75%

c)    Protein stroma: 5-8 %

Tabel 3. Komposisi Fraksi protein beberapa spesies ikan

Jenis ikan Fraksi protein dari protein total
sarkoplasma (%) miofibril (%) stroma (%)
Cod 21 76 3
Mas 23-25 70-72 5
Pipih 18-24 73-79 3

3)   Lemak                : 0,1 – 2,2%

Meskipun daging ikan mempunyai kandungan lemak yang cukup tinggi yaitu 0,1 – 2,2%, akan tetapi lemak yang terkandung di dalamnya merupakan lemak tak jenuh yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai kadar kolestrol yang sangat rendah, oleh karenanya orang yang mengidap kolesterol tinggi tidak perlu khawatir untuk mengkonsumsi ikan.

Asam lemak tak jenuh mempunyai sifat mudah mengalami oksidasi, sehingga timbul bau tengik pada tubuh ikan, terutama pada produk hasil awetan yang disimpan tanpa menggunakan antioksidan. Proses oksidasi dipercepat dengan adanya cahaya, iradiasi, logam berat, senyawa heme radikal bebas. Kandungan asam lemak tidak jenuh berderajat tinggi (poly unsaturated fatty acid/PUFA) terdapat pada ikan darat sebesar 70% dan ikan laut sebesar 88%. Walau ikan mengandung rata-rata 15% lemak yang terdiri dari 1/3 asam lemaknya adalah asam lemak jenuh dan  mengandung 50 -100 mg kolesterol/100 g ikan. Ikan dipandang dari sudut kesehatan  (berdasarkan studi ahli Denmark terhadap orang Eskimo): yaitu ikan mengandung :

a)    Asam lemak omega-3 C20 dan C22

b)   Asam lemak EPA (eicosapentaenoic) yang efek positif terhadap pembuluh darah

c)    Asam lemak DHA (docosahexaenoic) dapat mengubah sifat adesif trombosit

Dalam daing ikan merah kandungan lebih tinggi dibanding daging putih. Sususnan lemak ikan terdiri dari :

a)    Lemak sederhana yaitu trigliserida (95%)

b)   Lemak komplek yaitu sterol, fosfolipid

c)    Pada asam lemaknya lebih banyak rantai asam > 18 atom C (kebanyakan asam lemak C20 dan C22)

d)   Mengandung 17-21% asam lemak jenuh (terutama palmitat, miristat, stearat)

e)    79-83% asam lemak tidak jenuh (terutama arakhidonat)

4)   Karbohidrat       : 0,0 – 1,0%

Dalam daging ikan karbohidrat tersimpan dalam bentuk glikogen yang natinya akan berubah menjadi asam laktat dengan proses glikolisis anaerob. Kadar glikogen ini sendiri bergantung pada cara penangkapan/cara kematian ikan. Adapun contohnya adalah :

a)    kadar glikogen 0,6% (dibunuh dengan penusukan saraf penggerak segera setelah ditangkap)

b)   kadar glikogen 0,34% (dibunuh dengan memotong kepala)

c)    kadar glikogen 0,11 (mati setelah menggelepar)

5)   Vitamin dan mineral : sisanya

Daging ikan mempunyai sejumlah mineral yang dibutuhkan tubuh manusia yaitu sebagai contoh : K, Cl, P, S, Mg, Ca, Fe, Ma, Zn, F, Ar, Cu, dan Y. Selain itu ikan juga mengandung vitamin A dan D dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan manusia ( Liviawati dkk, 1989).

Tabel 2. Komposisi Kimia Ikan Laut

Spesies Jenis daging Air (%) Lemak (%) Protein (%)
TUNA(Thunnus thynnus) merahputih 66,468,5 6,74,6 22,925,1
SARDIN(Sardinops melanostica) merahputih 70,072,0 12,82,9 15,923,1
MACKEREL(Scomber scrombus) merahputih 54,265,5 29,713,1 21,215,5
HERRING merah 57,8 28,2 15,5
COD merahputih 77,878,4 2,50,5 18,619,9
HALIBUT merahputih 62,077,7 27,37,0 11,314,5
HIU merahputih 75,676,4 1,20,7 23,723,9

(Braekkan, 1976)

  1. 3. Mengetahui kualitas dan penentuannya pada telur dan ikan
    1. A. Pemeriksaan telur

Bertujuan untuk mengetahui kualitas telur yaitu kualitas eksterior (luar) dan kualitas dalam (inferior). Keduanya dapat dilakukan dengan peneropongan telur menggunakan box dengan lampu pijar didalamnya. Penilaian kualitas telur antara lain adanya embrio, kedalaman rongga udara, kecerahan kuning telur dan kesegaran isi telur. Kedalaman rongga udara dapat dibagi atas tiga kategori kualitas, yaitu :

1)   kedalaman 0,3 cm                      : kualitas AA

2)   kedalaman 0,5 cm                      : kualitas A

3)   kedalaman lebih dari 0,5 cm      : kualitas B

  1. B. Standart Kualitas Telur

Standar kualitas telur ayam perlu diterapkan dalam pemasaran telur terutama untuk memudahkan konsumen dalam menentukan pilihannya sehingga akan lebih memberi kepuasan pada konsumen dan lebih memberikan kepastian mutu telur. Selain itu standar kualitas juga bermanfaat untuk mencegah beredarnya/pemasaran telur yang tidak sesuai untuk bahan pangan atau membahayakan konsumen. Berdasarkan mutu telur dibedakan menjadi tiga : 1) mutu kelas 1, 2) mutu kelas 2 dan mutu kelas 3

Telur yang bagus mempunyai beberapa persyaratan yang memberikan bukti kebaikan telur tersebut. Adapun persyaratannya adalah :

1)   Kebersihan telur

a)        Telur yang kotor dibersihkan dengan kain lap yang bersih dan kering

b)        Bila terpaksa dicuci harus dengan Air pencuci harus hangat, 350C dan bersih atau dengan menggunakan deterjen khusus untuk telur. Setelah dicuci harus segera dikeringkan.

c)        Bahan pembantu harus tidak membahayakan kesehatan, tidak berbau, tidak menjadi medium pertumbuhan MO dan tidak menurunkan kualitas.

d)       Produk berkualitas (SNI 01-3926-1995).

Pemeriksaan kulit telur untuk mengetahui adanya keretakan halus dan spesifik grafiti. Pemeriksaan keretakan halus dilakukan dengan cara peneropongan. Adanya keretakan halus menunjukkkan kualitas telur yang buruk/kurang baik karena kulit atau cangkang telur tipis.

Spesifik grafity untuk mengetahui kualitas kulit telur dan berat jenisnya. Angka spesifik grafity yang digunakan dalam praktikum adalah : 1,060; 1,070; 1,075; 1,085 dan 1,090. Apabila spesifik grafitinya lebih dari 1,075 atau semakin besar maka kualitas telur (kulit) baik. Karena berat jenis telur hampir sebagian dipengaruhi oleh berat jenis cangkang/kulit telurnya.

Banyak orang beanggapan bahwa telur ataupun daging itik, kualitasnya lebih inferior dibandingkan dengan telur ayam  maupun daging telur. Anggapan ini pada dasarnya tidak tepat sebab sekalipun ada kesan aroma yang lebih anyir namun sejauh ini diketahui dari penyelidikan- penyelidikan, bahwa kandungan zat-zat di dalamnya hampir sama dengan ayam.

Telur itik rata-rata lebih berat dibandingkan dengan  telur ayam (telur ayam antara 55-60 gram sedangkan telur itik antara 65-75 gram). Kulit telur itik lebih tebal dibandingkan dengan telur ayam, jumlah porinya juga lebih sedikit dengan membran dalam yang lebih tebal pula. Hal ini memungkinkan lebih lambat berlangsungnya proses dehidrasi sehingga telur itik dapat bertahan lama dalam penyimpanan. Beberapa peneliti berkesimpulan bahwa ketahanan simpan telur itik kira-kira 20% lebih lama dibandingkan dengan ketahanan simpan telur ayam dalam kondisi lingkungan sama.

Kadar kolesterol telur itik ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan telur ayam, yaitu sebesar 16,2 mg per gram kuning telur atau 435 mg per butir telur, sedangkan pada ayam 14 mg per gram kuning telur atau 243,5 mg per butir telur (Bair & Marion, 1978).

  1. C. Penetuan kualitas telur

Dalam menentukan kualitas telur dibutuhkan teknik dan ketelitian yang cukup untuk mendapatkan telur yang berkualitas. Adapun cara menentukan kualitas telur adalah :

1)   Penentuan Kualitas Isi Telur

a)      Peneropongan

Prinsip          : merupakan pemeriksaan telur dengan cahaya

Tujuan          : Bagipembeli, berguna untuk menghindari agar tidak tertipu membeli telur yang telah dierami.

b)      Haugh unit (HU)

Prinsip          : Merupakan satuan yang digunakan untuk mengetahui kesegaran isi telur pada bagian putih telur.

HU : 100 Log (H + 7,57 – 1,7 W0,37)

Cara             : telur dipecah, lalu ketebalan putih telur diukur dengan alat mikrometer. Interpretasinya adalah telur segar mempunyai putih telur tebal Rumus :

HU      : haugh unit

H         : tinggi putih telur (mm)

W        : bobot telur (gram)

G         : gravitasi (feet/detik)

Penentuan kualitas telur berdasarkan HU (USDA)

HU  < 31                 : C

HU 31 – 60             : B

HU 60 – 72             : A

HU > 72                  : AA

c)      Kecerahan kuning telur

Tujuan          : untuk mengukur kualitas kuning telur digunakan alat Roche yolk colour fan.

Cara pengukuran:

  1. kuning telur tinggal dicocokkan dengan warna pada alat tsb.
  2. Warna telur yang baik: berada pada kisaran angka 9 -12

Gambar 2. Alat penetu kuning telur yaitu Roche yolk colour fan

2)   Penentuan Kualitas Kulit Telur

a)      Specific gravity

Cara pengukuran      : Telur dimasukkan ke dlm keranjang berongga , lalu selanjutnya keranjang yg berisi telur dimasukkan ke dalam ember yg berisi larutan garam dengan beberapa tingkat keenceran dan diurutkan mulai dari larutan garam yang terencer (specific gravitynya terendah). Pd larutan dgn specific grafity berapakah telur mulai mengambang. Bila telur banyak yang mengambang pd specific grafity di atas 1.075 maka kualitas telur baik.

b)      Peneropongan

Selain untuk mengetahui kualitas isi telur, peneropongan dapat digunakan untuk membantu mengetahui kualitas isi telur, misal mengetahui retak halus.

Tabel 3. Kriteria Penentuan Kualitas Telur

Bagian telur Kualitas telur
AA A B
Ruang udara 0,3 cm atau lebih kecil 0,5 cm atau lebih kecil >0,5 cm
Kuning telur Letak terpusat baik, Kuning jernih, Bebas dari noda letak terpusat baik, kuning jernih, kadang ada sedikit noda Letak tidak terpusat, Kurang jernih, Kadang ada noda
Putih telur Jernih dan Pekat Jernih dan Agak pekat Jernih dan Encer
Kulit telur Bersih, Tidak retak, Bentuk normal Bersih, Tidak retak, Bentuk normal Terang, ada sedikit noda, Tidak retak, Bentuk kadang tidak normal
  1. D. Pemeriksaan Kualitas Ikan

Tabel 4. Ciri utama ikan segar dan ikan yang mulai busuk

Bagian tubuh Ikan segar Ikan busuk
Kulit –       warna kulit terang dan jernih-       Kulit masih kuat membungkus tubuh, tidak mudah sobek, terutama pada bagian perut-       Warna-warna khusus yg ada masih terlihat jelas –       kulit berwarna suram, pucat dan berlendir banyak-       kulit mulai kelihatan mengendur di beberapa tempat tertentu-       kulit mudah robek dan warna-warna khusus sudah hilang
Sisik sisik menempel kuat pada tubuh sehingga sulit dilepas sisik mudah terlepas dari tubuh
Mata mata tampak terang, jernih, menonjol dan cembung mata tampak suram, tenggelam dan berkerut
Ingsang –    insang berwarna merah sampai merah tua, terang dan lamella insang terpisah-    insang tertutup oleh lendir berwarna terang dan berbau segar seperti bau ikan –     Insang berwarna coklat suram atau abu-abu dan lamella insang berdempetan-     lendir insang keruh dan berbau asam menusuk hidung
Daging –    daging kenyal, menandakan rigor mortis masih berlangsung-    daging dan bagian tubuh lain berbau segar-    bila daging ditekan dengan jari tidak tampak bekas lekukan

–    daging melekat kuat pada tulang

–    daging perut utuh dan kenyal

–    warna daging putih

–    daging lunak, menandakan rigor mortis telah selesai-    daging dan bagian tubuh lain mulai berbau busuk-    Bila ditekan dengan jari tampak bekas lekukan

–    daging mudah lepas dari tulang

–    Daging lembek dan isi perut sering keluar

–    daging berwarna kuning kemerah-merahan terutama disekitar tulang punggung

Keberadaan dalam air ikan segar akan tenggelam Ikan akan mengapung di permukaan air
  1. E. Penentuan Kualitas Ikan

Ada berbagai metode ilmiah yang digunakan untuk menentukan kesegaran ikan. Salah satu metode yang terbaru adalah metode skor indikasi kualitas (Quality Index Method/QIM). Dalam menentukan kesegaran ikan, metode itu menggunakan beberapa indikator, seperti penampakan, tekstur, bau, dan warna yang dinilai secara kualitatif. Nilai tersebut berupa skor berskala nol (kualitas ikan sangat segar) hingga tiga (kualitas ikan sangat buruk).

Selain metode QIM, ada teknik mengamati kesegaran ikan melalui aspek mikrobiologi menggunakan metode Total Bacterial Counts (TBC). Metode itu digunakan untuk mengungkapkan jumlah bakteri pada ikan. Selama proses penyimpanan, jumlah bakteri akan terus berkembang. Sebagai contoh, peningkatan bakteri pada ikan salmon segar. Sesaat setelah ikan ditangkap hingga 96 jam setelah itu dan ikan disimpan dalam ruangan bersuhu 10-21,1 derajat celcius, mikroorganisme dalam tubuh ikan jumlahnya mencapai 155 juta per gram. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bakteri yang terdapat pada lendir ikan salmon segar jumlahnya mencapai 370 organisme per mililiter. Jumlah itu meningkat menjadi 1.950 organisme per mililiter setelah dua jam. Sedangkan, berdasarkan pengamatan selama 24 jam, jumlah bakteri bertambah menjadi 3,9 x 109 organisme per mililiter pada kondisi suhu 16,7 derajat celcius. Metode ini biasa digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba, termasuk bakteri dan jamur. (Warsono, 2009).

Metode lain untuk menentukan kesegaran ikan adalah dengan mencari tahu nilai Total Volatile Basic Nitrogen (TVBN). Komisi Eropa menjelaskan bahwa nilai TVBN dapat digunakan sebagai penilaian peningkatan nilai kebusukan ikan. Metode itu juga digunakan untuk melakukan uji smart packaging apabila dinilai hasilnya meragukan. Metode tersebut untuk mengetahui komponen volatil (gas) sebagai bentuk akhir dari proses perubahan biokimia kemunduran mutu ikan. Komponen volatil tersebut berasal dari sumber protein ikan berupa asam amino yang membusuk. Sedangkan penggunaan TVBN lebih ditekankan untuk mengetahui kadar nitrogen yang keluar dari ikan. Nilai TVBN yang telah melewati ambang batas kebusukan ikan, yakni sebesar 29,9 miligram nitrogen per 100 gram pada hari ke-8. Artinya bila nilai TVBN melampaui ambang batas, sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Perangkat lain yang juga biasa digunakan untuk menguji smart packaging adalah nilai keasaman ikan. Ketika ikan mati, konsentrasi asam laktat dalam daging meningkat dan menyebabkan nilai pH menurun dari kondisi normal (7,0). Hal tersebut disebabkan ketika ikan mati, bakteri pembusuk tumbuh dengan cepat. Hasil penelitian terhadap ikan atlantik cod mati membuktikan teori itu. Pada ikan tersebut diketahui konsentrasi asam laktat dalam daging meningkat dan menyebabkan nilai pH turun menjadi 6,8 ( Huss, 1998).

  1. 4. Menegatahui penyimpanan dan produk olahan pada telur dan ikan
    1. A. Penyimpanan

Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Telur terdiri dari protein 13 %, lemak 12 %, serta vitamin, dan mineral. Nilaitertinggi telur terdapat pada bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan serta mineral seperti : besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B kompleks. Sebagian protein (50%) dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60 % dari seluruh bulatan telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. Kelemahan telur yaitu memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun kerusakan akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur.

Umumnya telur akan mengalami kerusakan setelah disimpan lebih dari 2 minggu di ruang terbuka. Kerusakkan tersebut meliputi kerusakan yang nampak dari luar dan kerusakan yang baru dapat diketahui setelah telur pecah. Kerusakan pertama berupa kerusakan alami (pecah, retak). Kerusakan lain adalah akibat udara dalam isi telur keluar sehingga derajat keasaman naik. Sebab lain adalah karena keluarnya uap air dari dalam telur yang membuat berat telur turun serta putih telur encer sehingga kesegaran telur merosot. Kerusakan telur dapat pula disebabkan oleh masuknya mikroba ke dalam telur, yang terjadi ketika telur masih berada dalam tubuh induknya. Kerusakan telur terutama disebabkan oleh kotoran yang menempel pada kulit telur. Cara mengatasi dengan pencucian telur sebenarnya hanya akan mempercepat kerusakan. Jadi pada umumnya telur yang kotor akan lebih awet daripada yang telah dicuci. Penurunan mutu telur sangat dipengaruhi oleh suhu penyimpanan dan kelembaban ruang penyimpanan. Prinsip pengawetan telur adalah untuk :

1)   Mencegah masuknya bakteri pembusuk ke dalam telur;

2)   Mencegah keluarnya air dari dalam telur.

Beberapa proses pengawetan telur utuh yang diawetkan bersama kulitnya antara lain :

1)   proses pendinginan;

2)   proses pembungkusan kering;

3)   proses pelapisan dengan minyak;

4)   proses pencelupan dalam berbagai cairan.

  1. Produk olahan telur

1)   Telur asin

Telur asin adalah telur utuh yang diawetkan dengan adonan yang dibubuhi garam. Ada 3 cara pembuatan telur asin yaitu :

a)    Telur asin dengan adonan garam berbentuk padat atau kering;

b)   Telur asin dengan adonan garam ditambah ekstrak daun teh;

c)    Telur asin dengan adonan garam, dan kemudian direndam dalam ekstrak atau cairan teh.

Dengan pengasinan telur ini memepunyai beberapa keuntungan yaitu sebagi berikut :

a)    Telur yang diasinkan bersifat stabil, dapat disimpan tanpa mengalami proses perusakan.

b)   Dengan pengasinan rasa amis telur akan berkurang tidak berbau busuk, dan rasanya enak.

Skema 1. Cara Pembuatan Telur Asin

2)   Pengasapan telur

Pengasapan merupakan salah satu metode pengawetan makanan yang digabungkan dengan proses penggaraman (perendaman dalam air garam). Makanan diasapi dengan panas dan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu, dan tidak diletakkan dekat dengan api agar tidak terpanggang atau terbakar (Margono dkk., 1993). Menurut Adawyah (2007) pengasapan akan menghasilkan senyawa asap dalam bentuk uap dan butiran-butiran tar yang akan menempel pada ikan dan terlarut dalam lapisan air, sehingga terbentuk aroma dan rasa yang khas pada produk. Proses pengasapan yang dilakukan ini selain menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperbaiki flavor juga menghambat oksidasi lemak. Pengasapan pada pengolahan ikan untuk mendapatkan rasa dan aroma tertentu. Pengasapan secara tradisional meliputi perlakuan pendahuluan yaitu penggaraman, pemfiletan ikan dengan asap kayu. Dalam perkembangannya pengasapan digunakan untuk mendapat produk makanan olahan dengan rasa tertentu (Hong et al., 2008).

Pengasapan dibagi menjadi dua jenis, yaitu cara tradisional dan cara dingin. Pada cara tradisional, asap dihasilkan dari pembakaran kayu atau biomassa lainnya (misalnya sabut kelapa, serbuk akasia, dan serbuk mangga). Pada cara basah, bahan direndam di dalam asap yang sudah dicairkan yang disebut juga asap cair (Kemal, 2001).

Sampurno (2006) mengkategorikan asap cair sebagai ‘gras’ atau generally recognized as safe atau secara umum aman dikonsumsi. Menurut Lestari (2008) asap cair ini dapat diaplikasikan  dengan penyemprotan (air spray), penguapan (vaporing), pengolesan, dan pencelupan atau pencampuran ke dalam bahan pangan yang diproses. Hal ini dikarenakan produk pengawet tersebut tidak mengandung senyawa yang membahayakan kesehatan. Setiaji (2006) menambahkan bahwa senyawa fenolat–fenol rantai panjang– yang terkandung dalam asap cair bukanlah senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Satu-satunya senyawa dalam asap cair yang kurang baik bagi kesehatan yakni Benzo (a) pirin atau yang biasa disebut tar. Namun senyawa ini sudah dihilangkan pada proses awal pembuatan.

Adawyah (2007) menjelaskan beberapa kelebihan penggunaan asap cair yaitu dapat menghasilkan produk yang seragam dengan konsentrasi yang lebih tinggi, dapat mengontrol aroma, dapat diaplikasikan pada berbagai jenis bahan pangan, dapat menghemat penggunaan kayu, sehingga dapat mengurangi polusi.

3)   Telur pindang

Untuk menjaga kesegaran dan mutu isi telur, diperlukan teknik penanganan yang tepat, agar nilai gizi telur tetap baik serta tidak berubah rasa, bau, warna, dan isinya.

Diolah dengan cara perebusan telur dalam larutan ekstrak daun jambu biji, jambu batu, atau sabut kelapa dan garam. Adapun caranya adalah :

a)    Cuci telur segar atau mentah sebanyak 3 0 butir;

b)   Buat larutan garam 6%~10% (60 sampai 100 gram dalam 1 liter air);

c)    Rebus telur dalam larutan garam, kemudian masukkan daun salam dan daun jambu biji atau serabut kelapa sebanyak yang telah ditentukan. Apabila telur sudah setengah matang (kira-kira 10 menit perebusan), lakukan peretakan kulit telur (dengan cara memukul-mukulnya) sehingga kulit telur menjadi retak;

d)   Teruskan perebusan sampai 20 menit. Pemasakan tersebut dilakukan sampai warna permukaan kulit telur menjadi coklat kehitaman lalu dinginkan.

4)   Acar telur

Acar telur adalah telur masak yang dikuliti dan direndam dalam adonan bumbu (cuka, gula, cabai, dan merica). Sehingga awet dan siap dimakan. Biasa disimpan dalam botol selai atau stoples.

Skema 2. Cara Pembuatan Pengacaran Telur

  1. Pengawetan pada ikan

1)   Dasar pengawetan ikan

Mempertahankan kesegaran dan mutu ikan selama dan sebaik mungkin. Hampir semua cara pengawetan/pengolahan ikan meninggalkan sifat-sifat khusus pada setiap hasil awetan/olahannya. Hal ini disebabkan oleh berubahnya sifat-sifat, bau (odour), cita rasa (flavour), wujud atau rupa (appearance), dan tekstur (texture) daging ikan.

2)   Tujuan pengawetan ikan

a)    Mencegah proses pembusukan pada ikan, terutama pada saat produksi melimpah

b)   Meningkatkan jangkauan pemasaran ikan

c)    Melaksanakan diversifikasi pengolahan produk-produk perikanan

d)   Meningkatkan pendapatan nelayan atau petani ikan, sehinngga mereka terangsang untuk melipatgandakan produksi

3)      Cara-cara pengawetan pada ikan

a)      Menggunakan suhu rendah, Bakteri pembusuk hidup diligkungan bersuhu 0 – 30°C. bila suhu diturunkan dengan cepat maka aktivitas bakteri akan terhambat atau berhenti sama sekali.

b)      Menggunakan suhu tinggi, Aktivitas bakteri pembusuk dapat dihentikan dengan suhu tinggi (80 – 90 ° C). Mis ikan asap dan ikan kaleng

c)      Mengurangi kadar air, dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menggunakan udara panas; penjemuran, oven atau alat pengering khusus (mechanical drier)
  2. Menggunakan proses osmosa; konsentrasi (tekanan osmotik) air di dalam dan di luar tubuh ikan berbeda, mis proses penggaraman
  3. Menggunakan tekanan; tekanan mekanis misal: pada kecap ikan, tepung ikan.
  4. Menggunakan panas; pengasapan dan perebusan.
  5. Menggunakan zat antiseptik; asam asetat (cuka), natrium benzoat, natrium nitrat dan natrium nitrit.
  6. Menggunakan ruang hampa udara; tujuannya untuk menghindari terjadinya oksidasi lemak yang sering menimbulkan efek bau tengik.
  7. 5. Mengetahui abnormalitas pada telur dan ikan
    1. A. Abnormalitas pada Telur

Cacat ini sudah jelas dari eksternal langsung pengamatan / Candling dan penting untuk evaluasi bagi produsen dan konsumen. Itu juga merupakan kriteria utama untuk memilih telur menetas. Ini mungkin sebagai :

1) Misshaped Telur : Jika kualitas albumen sangat miskin dan tidak ada suara fondasi yang membangun cangkang yang sejati; Hasilnya dapat khas ‘berkerut’ shell khas dari penyakit virus tertentu. Misshaped telur juga dapat timbul karena alasan lain. yaitu shell bisa pecah dalam cangkang kelenjar selama proses pembentukan; Kerusakan sebagian dapat diperbaiki tetapi bentuk-bentuk tonjolan di sekitar pusat telur (sebuah khatulistiwa tonjolan). Setiap faktor yang menyebabkan gangguan pada burung-burung 10-14 jam sebelum telur diletakkan kemungkinan akan meningkatkan kejadian kesalahan ini.

2) Coated Shell: Tambahan kalsium dapat disimpan ke beberapa telur kalsium menyebabkan percikan berwarna merah muda atau telur. Biasanya kesalahan ini disebabkan oleh sisa telur dalam cangkang kelenjar untuk periode yang diperpanjang. Sering kali ternak muda hanya datang ke produksi sangat rentan terhadap cacat ini. Setiap menekankan atau gangguan pada saat telur diletakkan karena akan mendorong burung untuk mempertahankan telur.

3) Telur dikupas kasar: Dalam beberapa kasus, mungkin dua butir telur dalam cangkang kelenjar pada waktu yang sama yang dapat menyebabkan bentuk telur dikupas kasar sering disebut sebagai ‘sasaran’ atau ‘thumb-print’ type. Masalah ini juga dapat mengakibatkan ‘tinggi dan kurus’ telur. Ada jenis lain dikupas kasar telur, termasuk dengan jerawat atau amplas-jenis tekstur.

4) Soft and Weak Shelled Eggs: Lemah lembut dan dikupas Telur: Lembut dan lemah telur dapat dikupas Dalam kasus tersebut, induk ayam mungkin tidak berbaring telur pada satu hari, tetapi mungkin berbaring berlapis baik dan lembut-shelled telur pada berikutnya.

5) Retak Telur: Telur mudah rusak setelah telur diletakkan dan cracking adalah salah satu alasan paling umum untuk merendahkan. Ini mungkin disebabkan oleh tidak cukup baik untuk kulit telur yang diletakkan atau penanganan yang buruk yang mungkin terjadi selama pengumpulan, penilaian atau transportasi. Tiga jenis utama retak diidentifikasi :

a) Hairline cracks.Retak garis rambut yang paling sulit untuk mengidentifikasi, terutama dalam telur sangat segar. Terampil Candling diperlukan bersama-sama dengan kondisi kerja yang ideal. Retak garis rambut biasanya disebabkan oleh telur bertabrakan dengan permukaan yang tidak fleksibel.

b) Star cracks.Bintang retak mungkin sering terlihat di bawah cahaya normal meskipun mereka lebih asily dilihat selama Candling. Sebuah titik pusat dampak dapat dilihat dan bintang sering retak akibat tabrakan antara telur.

c) Pinhole and toe-hole cracks Lubang jarum-lubang dan celah-celah jari kaki dapat disebabkan baik oleh burung-burung itu sendiri atau oleh tonjolan tajam yang mungkin datang ke dalam kontak dengan telur. Ada bukti bahwa sebuah kesalahan yang muncul serupa mungkin terjadi sebelum telur diletakkan.

d) Dirty and Glazed Shells: Kotor dan Glazed Shell: Setelah telur diletakkan, hal itu dapat menjadi terpengaruh dengan berbagai kontaminan termasuk bahan kotoran, debu, lumpur, sampah (non-sistem kandang), darah dan isi telur lainnya.

e) Body Checks: Tubuh Cek: Kadang-kadang selama pembentukan sel telur, telur retak sementara masih dalam tubuh ayam.

f)       Abnormalitas lain diantaranya :

  1. Telur tanpa kuning telur
  2. Telur didalam telur
  3. Blood spot/ noda darah
  4. Meat spot/ noda daging
  5. Telur dgn kerabang lunak
  6. Kerabang Tipis
  7. Kerabang keras
  8. Yolk tidak berwarna

B. Abnormalitas pada Daging ikan

1) Ciri ikan segar yang mengandung formalin: badan ikan kaku, sulit dipotong, tahan lama sampai tiga hari tanpa kerusakan dalam suhu kamar, ikan memiliki insang berwarna merah tua tidak cemerlang, warna daging putih bersih. Untuk ikan segar tanpa formalin memiliki insang berwarna merah segar, dan cepat busuk jika didiamkan lebih dari 1 hari.

2) Ciri – ciri ikan yang sudah busuk :

  1. i. Mata suram, kelabu terbenam dan tenggelam karena tertutup lendir
  2. j. Sisik suram dan mudah lepas
  3. k. Warna kulit suram/ buram dengan lendir tebal
  4. l. Lendir ikan yang busuk berubah warna kekuningan dengan bau tidak sedap. Selain itu ikan busuk lendirnya mengering dan berwarna putih susu.
  5. m. Insang berwarna kelabu atau coklat, dengan lendir tebal, lengket dan berbau.
  6. n. Dinding perut lembek
  7. o. Warna keseluruhan suram dan berbau busuk (Setyo, 2008)
  8. p. Ikan yang telah mulai membusuk akan mengapung jika dimasukkan ke dalam air.
  9. q. Kondisi ikan busuk banyak terdapat parasit,  badannya banyak luka dan patah-patah (Anonymous, 2009).
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2011 in Artikel Ikan

 

PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT DI JARING APUNG

PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT

DI JARING APUNG

 

  1. I. PENDAHULUAN

Budidaya ikan laut di jaring apung (floating cages) di Indonesia trgolong masih baru. Perkembangan budidaya secara nyata baru terlihat pada sekitar tahun 1989 yang ditandai dengan keberhasilan UPT Perikanan melaksanakan pemijahan / pembenihan sekaligus pembesaran ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di daerah Lampung untuk tujuan komersial.

Upaya pengembangan budidaa ikan laut, terutama dalam rangka menunjang pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan perikanan Pelita VI nampak cukup cerah karena disamping didukung oleh potensi sumberdaya yang cukup besar tersebar di beberapa Propinsi seperti; Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Maluku, juga didukung oleh semakin berkembangnya pemasaran ikan laut ke luar negeri (ekspor) maupun lokal. Berkaitan dengan upaya pengembangan budidaya laut melalui pembuatan buku Petunjuk Teknis Budidaya ikan laut merupakan sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani nelayan.

  1. II. PERSYARATAN LOKASI

Ketepatan pemilihan lokasi adalah salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan laut. Karena laut yang dimanfaatkan sebagai lahan budidaya merupakan wilayah yang penggunaannya melibatkan sektor lain (Common property) seperti; perhubungan, pariwisata, dan lain-lain, maka perhatian terhadap persyaratan lokasi tidak hanya terbatas pada faktor-faktor yang berkaitan dengan kelayakan teknis budidaya melainkan juga faktor kebijaksanaan pemanfaatannya dalam kaitan dengan kepentingan lintas sektor.

Dalam kaitan dengan hal tersebut, Departemen Pertanian telah mengeluarkan Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Budidaya Laut (SK. Mentan No. 473/Kpts./Um/7/1982).

Agar pemilihan lokasi dapat memenuhi persyarataan teknis sekaligus terhindar dari kemingkinan pengaruh penurunan daya dukung lingkungan akibat pemanfaatan perairan di sekitarnya oleh kegiatan lain, maka lokasi yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria, sebagai berikut:

Tabel 1. Syarat-Syarat Lokasi Budidaya

 

NO. FAKTOR PERSYARATAN MENURUT KOMODITAS
Kerapu Kakap Putih Kakap Merah
1. Pengaruh angin dan gelombang yang kuat Kecil Kecil Kecil 
2. Kedalaman air dari dasar kurung 5-7 m pada surutterendah 5-7 m padasurut terendah 7-10 m padasurut terendah
3. Pergerakan air/arus 20-40 cm/detik ±20-40 cm/detik ±20-40 cm/detik
4. Kadar garam   27-32 %0 27-32 %0 32-33 %0
5. Suhu Air Pengaruh   280C-300C 280C-300C 280C-300C
6. Polusi bebas bebas bebas
7. Pelayaran tdk menghambatalur pelayaran tdk menghambatalur pelayaran tdk menghambatalur pelayaran
  1. III. JENIS IKAN

Jenis-jenis ikan laut yang dapat dibudidayakan dipilih berdasarkan potensi sumber daya yang ada jenis ikan yang sudah umum dibudidayakan serta teknologinya yang sudah dikuasai/dihasilkan sendiri di Indonesia, guna untuk menghindari resiko kegagalan yang besar.

Jenis-jenis ikan yang dimaksud adalah Kerapu Lumpur (Epinephalus tauvina), Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch), Kakap Merah (Lutjanus malabaricus, Bloch & Schaider). Berikut di bawah ini disajikan biologi beberapa jenis ikan yang dapat dibudidayakan secara praktis.

 

Tabel 2: Biologi Jenis-Jenis Ikan yang Dibudidayakan

NO. URAIAN Kerapu Kakap Putih Kakap Merah
1. Nama LokalNama Asing Kerapu LumpurGreasy grouper Kakap PutihSeabass Ikan MerahRed-Snapper
2. Silsilah:Philum

Sub Philum

Klas

Sub Klas

Ordo

Famili

Genus

Species

 

Chrodata

Vertebrata

Pisces

Teleostei

Percomorphi

Sarranidae

Epinephelus

E. tauvina

 

Chrodata

Vertebrata

Pisces

Teleostei

Percomorphi

Centropornidae

Lates

L. carcarifer Bloch

Chrodata

Vertebrata

Pisces

Teleostei

Percomorphi

Lutjanidae

Lutjanus

L. malabaricus

Bloch & Scheider

3. Ciri-ciriMorphologi

 

Badan memanjanggepeng. Termasuk jenis

Kerapu besar.

Prapenutup insang

bulat, bergerigi dan

agak basar pada ujung

bawah

Gigi-gigi pada rahang

berderet dalam 2 baris.

Jari-jari Sirip keras, sirip

dubur 3 dan 8 lemah

Sirip Punggung berjari

keras 11 dan 15-16

lemah

Terdapat 3 duri pada

penutup insang yang

ditengah terbesar

Termasuk ikan buas dan

predator

Hidup perairan pantai ,

lepas pantai, menyendiri

Soliter

Dapat mencapai

panjang 150 cm

umumnya 50-70 cm

Warna dasar sawo

matang, agak keputihan

bagian bawahnya.

Terdapat 4-6 ban warna

gelap melintang badan.

Totol-totol warna merah

sawo di seluruh badan .

Badan memanjanggepeng, batang sirip

ekor lebar

Burayak umur 3-5

bulan warnanya gelap.

Glondongan warnanya

terang dg punggung

coklat kebiruan dan

berubah keabu-abuan.

Sirip abu-abu gelap

Mata merah

cemerlang, mulut lebar

dengan gerigi halus

Bag. Atas penutup

insang terdapat

lubang kuping

bergerigig

Sirip punggung berjari

keras sebanyak 7-9

dan jari lemah 10-11

Sirip dubur berjari

lemah 7-8

Sirip dubur berbentuk

bulat

 

Badan memanjangmelebar, gepeng

kepala cembung

Bag. Bawah penutup

insang bergerigi

Gigi-gigi pada

rahang tersusun

dalam ban-ban, ada

gigi taring pd bag.

Terluar rahang atas

Sirip punggung

berjari-jari keras 11

dan lemah 14 Sirip

dubur berjari-jari

keras 3, lemah 8-9

Termasuk ikan buas,

makannya ikan kecil

dan invetebrata

dasar. Hidup

menyendiri di daerah

pantai sampai

kedalaman 60 m.

Dapat mencapai

panjang 45-60 cm.

Warna bag. Atas

kemerahan/merah

kuningan Bag.

Bawah merah

keputihan. Ban-ban

kuning kecil diselingi

warna merah pd bag.

Punggung diatas

garis rusuk.

 

Gambar 1. Ikan Kerapu Lumpur (Epinephalus tauvina)

Gambar 2. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)

Gambar 3. Ikan Tambangan (Lutjanus johni)

 

  1. IV. PERSIAPAN SARANA BUDIDAYA
    1. 1. Kerangka/rakit

Kerangka berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan, dapat terbuat dari bahab bambu, kayu, besi bercat anti karat atau paralon. Bahan yang dianjurkan adalah bahan yang relatif murah dan mudah didapati di lokasi budidaya.

Bentuk dan ukuran rakit bervariasi tergantung dari ukuran yang digunakan. Setiap unit kerangka biasanya terdiri atas 4 (empat) buah kurungan.

Gambar 4. Disain Konstruksi Kurungan Apung

  1. Pelampung

Pelampung berfungsi untuk melampungkan seluruh saran budidaya termasuk rumah jaga dan benda atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan.

Bahan pelampung dapat berupa drum plastik/besi atau styrofoam (pelampung strofoam). Ukuran dan jumlah pelampung yang digunakan disesuaikan dengan besarnya beban. Sebagai contoh untuk menahan satu unit kerangka yang terdiri dari empat buah kurungan yang masing-masing berukuran (3x3x3) m3 diperlukan pelampung drum plastik/drum besi volume 200 liter sebanyak 9 buah, atau 11 buah dengan perhitungan 2 buah, untuk menahan beban lain (10/4×9) buah ditambah 2 buah untuk menahan beban tambahan. Pelampung diikat dengan tali polyethyline (PE) yang bergaris tengah 0,8-1,0 cm. Penempatan pelampung pada kerangka dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Penempatan dan Pemasangan Pelampung pada Kerangka/Rakit

  1. Kurungan

Kurungan atau wadah untuk memelihara ikan, disarankan terbuat dari bahan polyethline (PE) karena bahan ini disamping tahan terhadap pengaruh lingkungan juga harganya relatif murah jika dibandingkan dengan bahanbahan lainnya. Bentuk kurungan bujur sangkar dengan ukuran (3x3x3)m3. Ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibudidayakan.

Untuk ukuran ikan dengan panjang kurang dari 10 cm lebar mata yang digunakan adalah 8 mm (5/16 inchi). Jika panjang ikan berkisar antara 10-15 cm lebar mata jaring digunakan adalah 25 mm (1 inch), sedangkan untuk ikan dengan ukuran panjang 15-40 cm atau lebih digunakan lebar mata jaring ukuran 25-50 mm (1-2 inch).

Pemasangan kurungan pada kerangka dilakukan dengan cara mengikat ujung tali ris atas pada sudut rakit. Agar kurungan membentuk kubus/kotak digunakan pemberat yang diikatkan pada keempat sudut tali ris bawah.

Selanjutnya pemberat diikatkan ke kerangka untuk mempermudah pekerjaan pengangkatan/penggantian kurungan (lihat gambar 4) untuk mencegah kemungkinan lolosnya ikan atau mencegah serangan hewan pemangsa, pada bagian atas kurungan sebaiknya diberi tutup dari bahan jaring.

Gambar 6. Penempatan dan Pemasangan Kurungan

  1. Jangkar

Agar seluruh saran budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh arus angin maupun gelombang, digunakan jangkar. Jangkar dapat terbuat dari beton atau besi.

Setiap unit kurungan jaring apung menggunakan 4 buah jangkar dengan berat antara 25-50 kg. Panjang tali jangkar biasanya 1,5 kali kedalaman perairan pada waktu pasang tinggi

Gambar 7. Pengaturan dan Pemasangan Jangkar

 

  1. V. RANCANGAN TATA LETAK KERANGKA JARING APUNG

Pengaturan penempatan kerangka jaring apung harus mengacu kepada peraturan yang telah dikeluarkan, dalam hal ini Kepres No. 23 Tahun 1982 tentang Pengembangan Budidaya laut di Perairan Indonesia serta Petunjuk Pelaksanaannya yang telah dikeluarkan Departemen Pertanian melalui SK. Mentan No. 473/Kpts/7/UM/7/1982.

Berdasarkan petunjuk pelaksanaan tersebut, pihak yang berwenang melaksanakan pengatuaran penempatan kurungan jaring apung adalah Pemerintah Daerah setempat, dalam hal ini yang bertindak senagai Instansi Teknis adalah Dinas Perikanan setempat.

Penempatan kerangka jaring apung diperairan disarankan tidak lebih dari 10 (sepuluh) buah dalam satu rangkaian. Hal ini ditujukan untuk mencegah terjadinya penumpukan/pengendapan sisa makanan atau kotoran ikan serta limbah lainnya akibat terhambatnya arus, juga untuk memudahkan pengelolaan sarana dan ikan peliharaan. Disamping itu, sedapat mungkin penempatan kerangka mengacu kepada Rancangan Tata Ruang Satuan Pemukiman (RTSP) untuk memperoleh rancangan menyeluruh yang efisien, memiliki aksessibilitas yang tinggi serta aman bagi pelaksanaan kegiatan budidaya.

Gambar 8. Rancangan Tata Letak Kerangka Kurungan Jaring Apung

 

  1. VI. PENGELOLAAN KELOMPOK USAHA BERSAMA
    1. 1. Pengaturan Pola Tanam

Usaha budidaya laut dengan skala besar selalu dihadapkan dengan kendala baik pada saat memuai kegiatan dan pengelolaan maupun pemanenan dan pemasaran hasil. Bentuk kendala dan permasalahan yang ditemui antara lain berupa sulitnya memenuhi kebutuhan dan penampungan benih, saprodi dan tenaga kerja serta pelemparan hasil ke pasar. Untuk itu dalam pelaksanaan kegiatan budidaya skala besar perlu diterapkan pola tanam tertentu.

Alternatif pola tanam yang akan diterapkan oleh setiap KK adalah melakukan penanaman pada 1 unit kurungan jaring apung yang terdiri dari 4 buah kurungan pada setiap minggu.

  1. 2. Pemasaran Hasil

Pemasaran hasil dari usaha budidaya yang dilakukan petani/nelayan merupakan tanggung jawab Perusahaan Inti. Pelaksanaan budidaya (petani/nelayan) bersama Perusahaan Inti menentukan kesepakatan harga jual hasil panen baik untuk lokal maupun untuk ekspor.

  1. VII. PENGELOLAAN SARANA DAN IKAN PELIHARAAN
    1. 1. Pengelolaan Sarana

Sarana budidaya berupa kerangka/rakit, kurungan apung, pelampung dan lain-lain harus mendapat perawatan secara berkala. Kendala yang biasa terjadi pada budidaya jaring apung ini adalah pengotoran/penempelan oleh organisme penempel ini seperti teritip , algae, kerang-kerangan dan lain-lain dapat terjadi pada semua sarana budidaya yang terendam dalam air.

Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan menyebabkan kurungan bertambah berat. Untuk menanggulangi organisme penempel ini , dilakukan pembersihan jaring secara periodik paling sedikit 1 bulan sekali atau tergantung pada banyak sedikitnya organisme yang menempel.

Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan algae tersebut. Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi.

  1. 2. Pengelolaan Ikan

Kegiatan pengelolaan ikan yang dipelihara dikurungan adalah mengontrol dan mengawasi ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan.

Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan itu terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan, perlu diperhatikan dan diusahakan jangan sampai terjadi stress (keteganan) dan kerusakan fisik pada ikan.

  1. VIII. OPERASIONAL BUDIDAYA
    1. 1. Benih

Pemenuhan kebutuhan benih apabila belum dapat dipenuhi dari hasil pembenihan yang ada, bisa dilakukan dengan cara menangkap dari perairan di sekitar lokasi budidaya dan untuk itu dapat digunakan alat tangkap seperti bubu, pukat pantai, sudu atau jala.

Benih alam umumnya memiliki ukuran yang tidak seragam oleh karena itu kegiatan penggolongan ukuran (grading) perlu dilakukan. Selain itu proses aklimatisasi/penyesuaian iklim sebelum ikan dibudidayakan perlu dilakukan untuk menghindarkan kematian akibat pengaruh lingkungan/habitat yang baru.

Gambar 9. Macam-Macam Alat Tangkap Benih

 

  1. Pendederan

Yang dimaksud dengan pendederan adalah kegiatan pemeliharaan benih sampai ukuran tertentu hingga siap untuk dipelihara dikurungan pembesaran. Lamanya pendederan tergantung dari ukuran awal, tingkat kepadatan dari benih yang dipelihara. Sebagai contoh, untuk benih ikan Kakap putih yang berukuran kurang dari 10 cm dengan padat penebaran 100-150 cm diperlukan waktu satu bulan pada kurungan pendederan yang memiliki lebar mata8 mm (5/16 inch). Selanjutnya dipindahkan ke kurungan pendederan yang memiliki lebar mata 25 mm (1 Inch) dengan kepadatan 40-60 ek/m2 selama 2-3 bulan.

  1. Pembesaran

Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-75 gram/ekor dengan panjang 15 cm atau lebih dari hasil pendederan, selanjutnya dipelihara dalam kurungan pembesaran yang memiliki lebar mata jaring 25-50 mm (1-2 inchi) dengan kepadatan 15-25 ek/m3 dan waktu pemeliharaan dikurungan pembesaran berkisar antara 6-8 bulan.

  1. Pakan

Pakan adalah salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan moralitas ikan yang dipelihara. Oleh kjarena itu masalah kuantitas dan kualitas dari pakan yang diberikan layak dipenuhi.

Ikan rucah (Trash fish) adalah jenis pakan yang biasa diberikan untuk jenis-jenis ikan laut buas (carnivora) Dalam hal ini ikan Kerapu dan ikan Kakap yang dipelihara dikurungan apung. Jumlah pakan yang diberikan tergantung dari ukuran ikan yang dibudidayakan. Pada tahap pendederan diberikan pakan sebanyak 8-10% dari total berat badan/hari, sedangkan pada saat pembesaran diberikan pakan sebanyak 3-5% dari total berat badan/hari.Rasio konversi pakan (Food Convertion Ratio) yang akan diperoleh adalah 5:1 yang berarti untuk mendapatkan penambahan berat 1 kg daging ikan diperlukan pakan sebanyak 5 kg.

Frekuensi pemberian pakan tergantung pada ukuran ikan. Untuk larva dan glondongan (juvenil), frekuensi pakan yang diberikan adalah 3-4 kali/hari. Waktu pemberian pakan adalah pada siang hari.

  1. IX. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Sejalan dengan perkembangan usaha budidaya ikan di laut, muncul pula beberapa masalah yang dapat menggangu bahkan menghambat perkembangan usaha tersebut misalnya hama dan penyakit ikan.

  1. Hama

Hama yang menyerang pada usaha budidaya ikan laut lebih banyak disebabkan oleh hewan pemangsa atau pengganggu lainnya. Hama dapat menyerang apabila kerusakan pada sistem jaring-jaring yang dipergunakan sebagai kurungan pemeliharaan ilan. Kerusakan tersebut mengakibatkan masuknya hewan penggangu atau pemangsa lainnya seperi burung dan lingsang. Walaupun akibat yang ditimbulkan sangat terbatas atau relatif kecil, namun hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja. Termasuk kerugian akibat adanya pencurian yang dilakukan oleh manusia.

  1. Penyakit

Secara umum penyakit dapat diartikan sebagai gangguan dalam fungsi atau struktur suatu organ atau bagian tubuh. Penyakit timbul dikarenakan satu atau berbagai sebab baik berasal dari lingkungan maupun dari tubuh ikan itu sendiri. Hal-hal yang menyebabkan ikan terserang penyakit adalah:

  1. Cara perawatan yang kurang baik
  2. Makanan tidak cukup (giji dan jumlah)
  3. Kekurangan zat asam
  4. Perubahan suhu dan sifat-sifat air yang mendadak.

Gejala ikan yang terserang penyakit antara lain: kelainan tingkah laku, kurang nafsu makan, kelainan bentuk ikan, kelainan pada permukaan tubuh iakn, Penyakit insang, anus tidak normal, mata tidak normal dll. Penyakit dapat dibagi menjadi 2 golongan bila dilihat dari penyebabnya.

  1. Penyakit non Parasiter: adalah penyakit yang disebabkan oleh faktorfaktor kimia dan fisika air yang tida cocok bagi ikan seperti: perubahan salinitas air secara mendadak, polusi dan lain sebagainnya. Selain dari itu bisa juga disebabkan oleh kekurangan makanan dan gizi yang buruk, serta stress akibat penanganan yang kurang baik.
  2. Penyakit Parasiter: Penyakit yang biasa menyerang ikan budidaya laut adalah:

– Golongan virus

– Golongan bakteri

– Golongan crustacea

– Golongan cacing

– Golongan Protozoa

– Golongan jamur

Penanganan terhadap ikan yang sakit dapat dibagi atas 2 langkah penyembuhan yaitu:

  1. Berdasarkan teknis budidaya:

Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk penangan penyakit pada ikan antara lain adalah :

– menghentikan pemberian pakan terhadap ikan

– mengganti pakan dengan jenis yang lain

– memisah-misahkan ikan tersebut dalam beberapa komponen, sehingga densitasnya menjadi rendah.

  1. Berdasarkan terapi kimia:

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam terapi secara kimia adalah sebagai berikut adan tahapnya adalah:

– memeriksa sensifitas dari masing-masing obat yang diberikan pada ikan.

– memperhatikan batas dari dosis masing-masing obat.

– Tidak memberikan obat sembarangan kepada ikan yang sakit.

Cara pemberian obat:

– Ditenggelamkan dalam tempat budidaya.

– Disebarkan pada permukaan air

– Dicampurkan dalam pakan

– Dengan cara disuntikan

  1. X. PANEN

Panen dilakukan dan disesuaikan dengan ukuran ikan yang dikehendaki atau permintaan pasar. Untuk mencapai ukuran 600-800 gram per ekor dibutuhkan waktu pemeliharaan selama 6-8 bulan dengan survival rate 80-90%. Panen dilakukan secara total di dalam satu kurungan, bisa juga dilakukan secara persial tergantung dari ukuran panen yang dikehendaki.

  1. XI. DAFTAR PUSTAKA

Aji Nugroho. Murdjani M, dan Notowinarto, 1989 Budidaya Ikan Kerapu di Kurungan Apung, INFIS manual seri 104. Ditjen Perikanan dan IDRC, Jakarta.

Anonim, 1989. Paket Teknologi Budidaya Laut, Seri Budidaya Kakap Putih, Ditjen Perikanan, Dit Bina Produksi, Jakarta.

Anonim, 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Dalam Jaring Terapung, Ditjen Perikanan, Jakarta.

Anonim, 1990/1991, Usaha Penanggulangan Serangan Penyakit Pada Usaha Budidaya Laut no. 5, BBL Lampung, Ditjen Perikanan.

Djamali, A Hutomo, M. Burhanuddin dan S. Martosewojo, 1986, Sumberdaya Ikan Kakap (Lates calcarifer) dan Bambangan (Lutjanus spp) di Indonesia, Seri Sumber Daya Alam No. 130. Lon LIPI. Jakarta.

  1. XII. SUMBER

Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Laut di Jaring Apung, Direktorat Jenderal Perikanan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2011 in Artikel Ikan

 

PEDOMAN TEKNIS PENANGGULANGAN PENYAKIT IKAN BUDIDAYA LAUT

PEDOMAN TEKNIS

PENANGGULANGAN PENYAKIT IKAN BUDIDAYA LAUT


 

  1. I. PENDAHULUAN

Dalam rangka mendukung peningkatan produksi perikanan, khususnya ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti: kakap putih, kerapu, beronang, rumput laut dan jenis ikan laut lainnya, akhir-akhir ini sedang digalakkan pembudidayaannya dan mendapat perhatian dari masyarakat.

Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya ikan laut tersebut, terdapat pula beberapa masalah yang mengganggu, sehingga menghambat perkembangan usaha budidaya, yaitu hama dan penyakit ikan. Apabila keadaan tersebut tidak segera ditanggulangi lebih awal, maka kegiatan budidaya ikan laut akan terganggu, akibatnya ikan akan menurun karena tingkat kematiannya tinggi.

Untuk menghindari hal tersebut perlu diupayakan pencegahan dan pengobatan terhadap hama dan penyakit ikan. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa tidak semua penyebab kematian dikarenakan penyakit, maka dalam menangani masalah ini, tindakan penanggulangannya dilakukan secara hati-hati dan teliti agar tidak menimbulkan kesalahan yang merugikan.

  1. II. JENIS PENYAKIT
    1. 1. Penyakit pada kulit

Kulit ikan menunjukkan warna pucat dan berlendir. Tanda ini terlihat jelas pada ikan yang berwarna gelap. Penyakit yang disebabkan oleh jamur menimbulkan bercak-bercak warna kelabu, putih atau kehitam-hitaman pada kulit ikan. Ikan yang menderita penyakit kulit kadang-kadang menggosok-gosokkan badannya pada suatu benda di dalam air.

  1. 2. Penyakit pada insang

Ikan terlihat sulit bernafas. Tutup insang mengembang dan lembaranlembaran insang pucat. Pada lembaran-lembaran insang terlihat bintik merah yang disebabkan oleh pendarahan kecil (peradangan). Jika terdapat bintik-bintik putih pada insang, hal ini diebabkan oleh parasit kecil yang menempel pada tempat tersebut.

  1. 3. Penyakit pada organ (alat-alat dalam)

Perut ikan membengkak dengan sisik-sisik ikan berdiri (penyakit dropsy), dapat juga sebaliknya, perut menjadi sangat kurus. Kotoran ikan berdarah, menandakan adanya radang usus. Penyakit pada gelembung renang, menyebabkan ikan berenang terjungkir balik karena terganggunya keseimbangan badan.

  1. III. PENYEBAB PENYAKIT
  2. Non Parasit
    1. Faktor-faktor kimia dan fisika, antara lain:

–     Perubahan salinitas air secara mendadak;

–     pH yang terlalu rendah (air asam), dan pH yang terlalu tinggi (air basa/alkalis);

–     Kekurangan oksigen dalam air;

–     Zat beracun, pestisida (insektisida, herbisida dan sebagainya);

–     Perubahan suhu air yang mendadak;

–     Kerusakan mekanis (luka-luka);

–     Perairan terkena polusi.

  1. Makanan yang tidak baik :

–     Kekurangan vitamin dan komposisi gizi yang buruk;

–     Bahan makanan yang busuk dan mengandung kuman-kuman.

  1. Bentuk fisik dan kelainan-kelainan tubuh yang disebabkan oleh keturunan.
  2. Stres

Stres yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada ikan tersebut. Stres merupakan suatu rangsangan yang menaikkan batas keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungannya.

Biasanya stres pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan/transportasi ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam jaring apung di laut dari tempat pengangkutan biasanya akan mengalami shock, berhenti makan dan mengalami pelemahan daya tahan terhadap penyakit.

  1. Kepadatan Ikan

Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya serangan penyakit.

  1. 2. Parasit (Pathogen)
    1. Pengertian : Parasit atau panthogen adalah organisme dalam bentuk hewan atau tumbuh-tumbuhan atas pengorbanan dari induk emangnya (hewan atau tumbuh-tumbuhan lain). Parasit dapat berkembang dan menyebabkan infeksi yang dapat menularkan penyakit itu sendiri.
    2. Penyebab penyakit :

– Crustacea/udang renik

– Protozoa

– Jamur

– Bakteri

– Virus

  1. IV. PENGOBATAN PENYAKIT
    1. 1. Non parasit
      1. Pencegahan penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit non parasit adalah :

1)      Lingkungan harus baik

Lingkungan, terutama sifat fisika, kimia biologi perairan akan sangat mempengaruhi keseimbangan antara ikan sebagai inang dan oranisme penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stres dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit non parasit.

2)      Kepadatan ikan yang seimbang

Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan (carrying cpacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti amoniak akan meningkat seperti amoniak akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan merupakan penyebab timbulnya penyakit.

3)      Makanan yang seimbang

Pemberian makanan yang kurang bermutu dapat menyebabkan kekurangan vitamin yang diikuti oleh pertumbuhan yang lambat atau menurunnya daya tahan ikan sehingga mudah untuk terserang suatu penyakit, disamping tingkat pemberian pakan dan kualitas makanan juga akan mempengaruhi sistem kekebalan.

  1. b. Pengobatan yang bisa dilakukan :

1)      Melalui suntikan dengan antibiotika.

2)      Melalui makanan.

3)      Perendaman.

4)      Penyemprotan dengan tekanan tinggi.

  1. 2. Parasit

Beberapa macam parasit ikan dan pengobatannya yang dapat dilakukan anarata lain adalah :

  1. Crustacea

Beberapa jenis crustacea yang sudah diketahui sebagai parasit ikan diantaranya adalah copepoda dan isopoda. Salah satu jenis copepoda ialah : Argasilus sp didapati biasa menyerang pada ikan laut yang dipelihara. Untuk jenis isopoda yang biasa terdapat dan merupakan parasit ikan adalah Nirocila sp. Nirocila sp menyerang berbagai jenis ikan laut yang dipelihara, terutama terhadap ikan berukuran di atas 50 gram. Binatang ini mempunyai duri pengait pada kakinya sehingga dapat menempel dengan kuat pada insang atau di bagian sisi tubuh ikan yang diserang. Serangan pada bagian insang ini bisa mengakibatkan borok karena jaringan daging pada insang dimakan oleh parasit tersebut.

Nirocila sp tergolong binatang vivaparous. Telur yang dihasilkan dierami dan anak yang menetas tumbuh dan berkembang di dalam kantong yang terletak di bawah perutnya.

Nirocila sp. muda kemudian dilepaskan dan berenang bebas yang kemudian dapat menginfeksi ikan yang lain. Nirocila sp adalah protandrous di mana pada waktu muda mereka berkelamin jantan dan berubah menjadi betina pada waktu dewasa (matang).

Nirocila sp tahan terhadap kebanyakan pestisida seperti Dipterex, Matathion dan Hhyrethroids syntetic. Organophospat DDVP cukup aman dan efektif untuk pemberantasan parasit ini, namun jarang terdapat dalam bentuk yang masih murni.

Pengobatan dan pencegahan

Untuk mengatasi serangan parasit ini disarankan memakai formalindengan cara sbb :

1)   Angkat jaring apung dan simpanlah ikan-ikan yang terserang di dalam bak/tank.

2)   Semprotkan formalin 1% ke jaring tersebut.

3)   Tambahkan formalin (200 ppm) ke dalam bak sampai parasit tersebut lepas dari tubuh ikan dan

4)   Keluarkan parasit-parasit tersebut dan musnahkan

Biasanya serangan Nirocila sp dewasa (ukuran 2 – 3 cm) jarang berakibat serius. Serangan parasit dewasa mudah terlihat sewaktu dilakukan grading, sehingga dengan mudah dapat diambil dengan tangan untuk kemudian dimusnahkan.

  1. Cacing Pipih

Dectylogyrussp kadang-kadang ditemui menyerang ikan laut. Yang paling sering ditemukan menyerang ikan laut adalah Diplectanum sp.

Bentuk parasit ini adalah sbb : mempunyai dua buah mata, ada alat penghisap (sucker) pada bagian depan dan belakang. Bagian belakang berbentuk seperti martil dengan bentuk seperti jangkar pada tiap ujungnya, bagian dalam perut seperti usus dan alat kelamin jelas terlihat. Parasit ini mempunyai panjang antara 0,5 – 1,0 dan memangsa sel-sel epithel insang ikan yang diserang.

Ikan yang terserang parasit ini atau jenis-jenis parasit lain yang menyerang insang cenderung untuk berenang ke arah air yang berarus kuat atau berenang miring di mana terlihat berbaring dengan insang terbuka lebar dan bergerak cepat. Biasanya serangan parasit ini sering bersamaan pula dengan serangan bakteri vibriosis. Insang ikan yang terserang kelihatan pucat dan mengeluarkan lendir yang berlebihan seperti pada penyakit cryptocoryoniasis. Apabila kondisinya sudah sedemikian parah, pengobatan akan percuma.

Pencegahan dan pengobatan

Pengobatan harus dilakukan secepatnya pada saat ikan kelihatan mulaiterserang penyakit ini, dengan cara sbb :

1)   Menggunakan formalin 200 ppm selama 1/2 sampai 1 jam dengan aerasi yang kuat, ulangi sampai 3 hari.

2)   Menggunakan formalin 25 ppm dan malachite green 0,15 ppm selama semalam perendaman.

3)   Menggunakan acriflavina 10 ppm 1 jam atau 100 ppm dicelupkan selama 1 menit.

4)   Menggunakan dipterex 20 ppm selama 1 jam.

5)   Menggunakan air tawar murni selama 1 jam (hanya untuk Kakap Putih dan Kerapu Lumpur).

  1. Protozoa

Protozoa merupakan pathogen yang paling utama bagi usaha budidaya laut. Protozoa merupakan jazad renik bersel satu dengan ukuran yang bervariasi antara 10 – 500 mikron.

Parasit protozoa umumnya mempunyai bulu/cilia di sekeliling tubuhnya. Parasit pada budidaya ikan laut yang disebabkan oleh protozoa dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu : Cryptocaryoniasis, Brooklynelliasis dan Trichadiniasis.

1)   Cryptocaryoniasis

Penyakit ini paling umum dijumpai pada budidaya laut yang disebabkan oleh protozoa. Organisme penyebabnya adalah Cryptocaryon irritans Brown, dijumpai secara luas seperti halnya Ichthyophthirius multifilis yang terdapat di air tawar. Pada stadium belum dewasa binatang ini cenderung berbentuk seperti buah pear. Bagian mulut (Cryclostomum) terlihat seperti pada ganbar 5 dimana terlihat sedang memangsa sel daging ikan.

Pemangsaan yang terus menerus kadang-kadang menyebabkan kerusakan pada kulit atau insang. Stadia “trophont” berbentuk seperti bola dengan garis tengah sekitar 300 mikron, terbungkus oleh bulu-bulu halus/cilia.

Ikan Kerapu Lumpur dapat terserang penyakit bintik putih seperti terserang Ichtyophthirius multifilis. Bintik putih terlihat berbentuk titik yang masuk cukup dalam. Dalam hal-hal tertentu di mana serangan penyakit ini ditunggangi oleh serangan bakteri maka akan timbul borok pada bagian yang terserang.

Ikan Kakap dan jenis ikan lain yang bersisik besar jarang terlihat bahwa tersebut terserang penyakti bintik putih. Ikan-ikan tersebut akan kehilangan nafsu makan, matanya membengkak, sisik-sisiknya lepas, kadang terjadi pendarahan pada kulitnya dan terjadi pembusukan bagian sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.

Pada ikan Lutjanus (jenis Goden Snaper) kepala merupakan bagian yang paling rawan terhadap serangan parasit ini, yang kadang sampai sisik pada kepala bagian atas dan tutup insang mengelupas yang kemudian terlihat botak.

Insang pada ikan yang terserang parasit ini akan rusak dan tidak berfungsi. Keluarnya lendir yang berlebihan biaanya tidak sehebat seperti pada serangan parasit Diplectanum sp.

Penyakit yang paling sering dijumpai pada ikan-ikan dan sangat susah diberantas ini sesebabkan oleh protozoa yang bersarang pada lapisan lendir kulit dan sirip ikan, serata merusak lapisan insang. Binatang yang sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa ini, pada selaput ikan bergerombol sampai berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus jumlahnya, hingga dapat terlihat sebagai bintik-bintik putih. Karena itu biasa disebut White spot.

Protozoa ini merusak sel-sel lendir ikan, dan dapat menyebabkan pendarahan, yang sering terlihat pada sirip dan insang ikan. Siklus hidup parasit ini sangat penting untuk diketahui, oleh karena itu segala cara pemberantasannya, pada dasarnya ialah memutuskan rantai kehidupan.

Sesudah 8 hari hidup pada ikan parasit ini sudah cukup dewasa untuk melangsungkan diri dari tubuh ikan, dan melayang-layang dalam air untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia melekatkan diri pada suatu benda, batu-batu, tumbuh-tumbuhan, gangang, dan sebagainya serta membentuk suatu lapisan kulit yang terlihat sebagai lendir. Bentuk demikian disebut cyste. Parasit ini dalam cyste membelah diri.

Dalam waktu 5 jam (lamanya tergantung suhu), terbentuklah beribu-ribu protozoa kecil-kecil. Kemudian dinding cyste itu pecah, lalu berhamburlah anak-anak parasit tersebut, melayang-layang dalam air, siap untuk menyerang ikan.

Apabila dalam waktu 48 jam mereka tidak dapat menemukan ikan-ikan untuk ditempelinya maka anak-anak parasit itu akan mati. Jika ada ikan, mereka segera menempel dan tumbuh pada selaput lendir ikan. Pada selaput lendir ikan, parasit protozoa ini hidup terbungkus oleh selaput sel lendir. Obat-obat pemberantas tidak dapat meresap ke dalam parasit dalam keadaan tersebut, tanpa merusak selaput lendir ikan yang bersangkutan juga. Karena itu fase pre cyste, adalah fase yang mudah dikenai obat tanpa merusak ikan yang bersangkutan.

Demikian juga cyste ketika benih parasit ini sudah keluar dari cyste. Sedangkan pada fase cyste, penyakit ini juga tidak tertembus oleh obat, karena berdinding lendir.

Terhadap penyakit ini tindakan yang lebih penting ialah pencegahan. Hal ini dilakukan dengan menciptakan suasana kesegaran dan kesehatan bagi ikan, sehingga ikan mempunyai daya tahan yang besar terhadap penyakit ini. Caranya ialah dengan memilih lokasi di mana air dapat selalu berganti lewat arus yang cukup.

Pencegahan dan pengobatan

Penanggulangan parasit ini cukup sulit. Stadia tomont berbentuk kistasangat tahan terhadap obat-obatan, sedangkan stadia trophonts seringkali masuk cukup dalam ke jaring daging ikan. Namun demikianperlakuan seperti tersebut di bawah ini dan telah banyak memberikan hasil yaitu :

1)   Celupkan ke dalam formalin 200 ppm selama 1/2 sampai 1 jam tergantung kepada daya tahan ikan.

2)   Celupkan ke dalam formalin 100 ppm dan acriflavin 10 ppm selama 1 jam.

3)   Celupkan dalam campuran formalin 25 ppm dan malachite green 0,15 ppm selama 12 jam.

4)   Menggunakan nitrofurazone 30 ppm selama 12 jam.

5)   Menggunakan methyllene blue 0,1 ppm selama setengah jam.

6)   Menggunakan air tawar murni selama 1 jam (hanya untuk ikan kakap dan kerapu lumpur).

Perlakuan tersebut diulangi 2 sampai 3 kali. Pengobatan juga dapat dilakukan dengan percampuran obat dalam ransum makanan, yaitu menggunakan metronidozone 5 gram untuk setiap kilogram makanan selama 10 hari.

Berdasarkan hasil percobaan, gejala penyakit cryptocaryoniasis akan terlihat dalam waktu 5 hari setelah ikan sehat diolesi insang dari ikan yang sakit. Tindakan yang perlu diambil untuk menanggulangi penyakit ini adalah sebagai berikut :

1)   Isolasi ikan-ikan yan ternyata sakit khususnya benih/gelondongan sejauh mungkin dari ikan-ikan yang sehat.

2)   Ambil ikan-ikan yang mati atau sakit parah dari keramba untuk kemudian dimusnahkan.

3)   Lakukan pengobatan sedini mungkin (begitu terlihat tanda-tanda ada ikan yang terserang penyakit ini) untuk memotong siklus hidup penyakit ini dan jangan sampai menjadi stadia kista serta terbentuknya tomite (stadia muda dan berenang bebas dari Cryptocaryon irritans).

2)   Brooklynelliasis

Penyakit ini disebabkan oleh Brooklynela sp, suatu protozoa berbentuk seperti kacang mirip dengan Chilodonella sp. mudah dikenal dengan adanya bulu rambut (cilia) yang panjang, sebuah macronucleus dan kantong berbentuk oval yang terlihat jelas. Brooklynela sp irritans, namun jenis ikan yang bisa terserang lebih sedikit.

Parasit ini dijumpai di bagian insang dan kulit dari ikan yang terserang. Tanda-tandanya penyakit yang ditimbulkan sama dengan penyerangan Cryptocaryon irritans, hanya saja jarang terjadi kerusakan kulit ikan yang terserang. Luka yang ditimbulkannya lebih tersebar dan terjadi pendarahan pada kulit bagian dalam.

Pendarahan ini kemungkinan disebabkan oleh kesengajaan ikan menggesek-gesekkan badannya ke jaring atau wadah budidaya lainnya yang diakibatkan gatal akibat serangan parasit ini pada bagian kulit.

Pencegahan dan pengobatan

Pemberantasan parasit ini dapat dilakukan seperti pada seanganparasit Cryptocaryon irritans. Keberhasilan upaya pemberantasan dapat dilihat dengan pengamatan di bawah mikroskop terhadap preparat usapan (smear) pada ikan yang diobati. Serangan penyakitsekunder seperti kebusukan sirip dapat dicegah dengan pengobatan menggunakan acriflavine atau pemandian mengunakan antibiotic.

3)   Trychodiniasis

Penyakit Trychodiniasis adalah penyakit yang disebabkan oleh Trichodina sp suatu protozoa bebrbentuk cakram dengan diameter sekitar 100 mikron dengan “gigi-gigi” yang terdapat di bagian tengah dan cilia pada bagian permukaan bawah.

Pemberantasan/pencegahan penyakit ini dapat dilakukan seperti terhadap serangan “Cryptocaryoniasis” atau “Brooklynelliasis”.

  1. Jamur

Jamur merupakan tumbuhan sederhana yang tidak membutuhkan cahaya untuk tumbuh, tetapi memakan bahan organik untuk mendapatkan energinya.

Jamur dapat menyebabkan penyakit bila tumbuh pada organisme hidup termasuk ikan. Dewasa ini ada dua penyakit ikan yang berasal dari jamur, yaitu : Saprolegniasis dan Ichthyosporidosis.

1)   Saproleniasis

Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang disebut Saprolegnia sp. Serangan jamur ini menyebabkan perubahan warna pada kulit dan tumbuh jamur putih keabu-abuan yang makin lama makin melebar, dan menyebabkan kerusakan pada otot. Ikan-ikan yang sakit tersebut sebaiknya diambil dari kurungan pemeliharaan. Penyakit ini jarang sekali ditemukan dan tidak mudah menyerang ikan yang dalam keadaan sehat.

Penyakit ini terutama menyerang ikan kakap putih pada bagian sirip punggung dan melebar ke arah sirip ekor.

Pencegahan dan pengobatan

Pengobatan dapat dicoba dengan jalan diolesi :

1)      Larutan yodium Tincture 0,1%

2)      Larutan Potassium Dichromat 1% Atau perendaman dengan menggunakan :

3)      Methylene blew 0,1 PPM, selama kira-kira 1 jam dan diulangi selama 3 hari.

2)   Ichthyosporidosis

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Ichthyos poridium sp (Ichthyophonus sp). Jamur ini berkembang mengikis jaringan luar bagian kepala dan menyebabkan luka yan dalam yang berwarna kemerah-merahan dan dapat masuk ke dalam sampai ke bagian tengkorak kepala ikan. Kadang-kadang juga ditemukan di bawah kulit dan jaringan epitel kulit dari jaringan organ yang penting misalnya insang, usus, hati dan jantung dalam bentuk gumpalan granula.

Biasanya terdapat pada ikan kerapu dan berkembang lambat karena penyakit ini terutama teramati pada ikan-ikan atau ukuran pasar. Sampai saat ini belum ada pengobatan yang manjur terhadap penyakit ini. Beberapa jenis antibiotik yang biasa terdapat di pasaran kurang mempan menghadapi penyakit ini. Untuk itu dapat dihindari dengan jalan menjaga makanan dari ikan rucah yang diberikan agar bersih dan tidak ada gumpalan-gumpalan penyakit di bagian kulitnya atau di bagian lain.

  1. Bakteri

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri merupakan penyakit yang paling umum dijumpai pada usaha budidaya ikan laut. Bakteri merupakan jasad renik yang kira-kira duapuluh kali lebih kecil dari sel-sel jamur, protozoa atau sel daging ikan. Biasa terdapat di udara, dalam tanah maupun dalam air dan benda padat lainnya. Sebagian besar bakteri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit. Namun bakteri mempunyai kemampuan memperbanyak diri sangat cepat, sehingga apabila bakteri tersebut berada dalam bagian tubuh hewan. Bakteri ini bermacam-macam jenisnya. Yang menyerang manusia, berbeda dengan jenis yang menyerang ikan dan tumbuh-tumbuhan. Tetapi ada pula jenisjenis yang dapat menyerang manusia dan hewan sekaligus. Ikan yang terserang oleh bakteri dapat memperlihatkan gejala yang berbeda-beda. Jika bakterinya menyerang kerusakan-kerusakan pada kulit yang terlihat seperti kena api (luka bakar), seperti kudis/borok yang membusuk.

Infeksi bakteri biasanya timbul apabila ikan menderita stres. Kematian banyak terjadi pada ikan yang menderita stres karena serangan bakteri yang menyebabkan infeksi. Penyakit bakteri merupakan jenis yang terbanyak didapati pada usaha budidaya ikan di laut. YC. Chong (1986) menyebutkan bahwa di perairan Siangapura terdapat 3 kelompok utama penyakit yang disebabkan oleh bakteri, yaitu : pembusukan sirip/ekor, Vibriosis dan Streptococcosis.

1)   Pembusukan sirip/ekor (Bakteri Fin Rot)

Bakteri ini biasanya menyerang sirip-sirip, terutama sirip ekor dan dapat mengakibatkan luka dan pengelupasan kulit. Ikan-ikan yang terserang penyakit ini akan menalami luka/kerusakan pada bagian tepi dan siripsiripnya, termasuk sirip ekor dan akan terkikis secara tidak teratur. Bahkan tidak jarang terjadi sirip yang terserang akan tinggal bagian pengkalnya saja. Jika diamati pada bagian yang terkena penyakit atau bagian yang luka hanya sedikit terdapat protozoa, tetapi diketemukan banyak sekali populasi bakteri yang terdiri dari bakteri Mycobacter sp. Vibrio sp, jenis-jenis Pseudomonas dan Cocci gram positif.

Diperkitakan bahwa kerusakan yang terjadi tersebut diakibatkan oleh serangan bakteri dengan populasi yang sangat padat. Bakteri ini mudah menular lewat luka-luka ikan yang lain akibat sentuhan ekor yang sakit. Bakteri yang paling dominan adalah Vibro sp karena mempunyai kemampuan yang baik untuk hidup di air laut dan pertumbuhannya untuk membentuk koloni lebih cepat dibandingkan dengan bakteri yang lain.

Pada dasarnya penyakit ini tidak begitu berbahaya, tetapi yang menjadikan bahaya justru infeksi sekunder jenis bakteri lain yang dapat memperparah penyakit tersebut dan menyebabkan kematian ikan.

Pencegahan dan pengobatan

Pencegahan dapat dilakukan dengan jalan perendaman ikan yang sakit ke dalam bak air dengan menggunakan :

– Nitrofurozone 15 ppm, selama 3 – 4 jam.

– Suplhonamide 50 ppm, selama 3 – 4 jam.

– Neomycin sulphate 50 ppm, selama 1 – 2 jam.

– Chloramphenicol 50 ppm, selama 1 – 2 jam.

– Acriflavine 100 ppm, selama 1 menit.

Sesudah pengobatan, tempatkan ikan ke dalam kurungan yang bersih dengan kepadatan yang rendah dan aliran air yang baik, atau pada bak dengan penambahan aerasi secukupnya.

2)   Vibriosis

Vibriosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Bakteri Vibrio sp termasuk kelompok bakteri yang heterogen dan gram negatif. Ada 2 bakteri penting yang diketahui menyerang ikan laut yaitu : V. alginolyticus dan V. parahaemollyticus. Vibriosisi merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit yang lain misalnya protozoa atau penyakit lainnya.

Dari percobaan yang dilakukan terhadap bakteri yang diisolasikan dari ikan kerapu dan kakap putih yang sakit, ternyata bakteri ini tidak mampu membuat ikan menjadi sakit vibriosis setelah dilakukan penyuntikan dengan bakteri tersebut.

Terkecuali apabila dosisnya tinggi. Ikan kerapu yang terkena Vibriosisi akaibat suntikan bakteri tersebut, akan mengalami perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dan daerah bekas suntikan akan menjadi borok. Selanjutnya akan terjadi pendarahan pada bagian peritonial dan ginjalnya akan rusak. Pengamatan di alapangan juga menunjukkan gejala ikan kurang nafsu makan, busuk sirip dan akumulasi cairan di bagian abdomen.

Pencegahan dan pengobatan

Beberapa pengobatan dengan antibiotik dapat dilakukan pada penyakit ini antara lain :

1)   Menggunakan Oxytetracycline sebanyak 0,5 garam per kg makanan ikan selama 7 hari.

2)   Menggunakan Sulphonamides 0,5 gram per kg makanan ikan selama 7 hari.

3)   Chloromphenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat makanan ikan selama 4 hari.

Apabila ikan tak mau makan, cobalah pengobatan dengan perendaman, sbb :

1)   Nitrofurozon 15 ppm, selama lebih kurang 4 jam.

2)   Sulphonamides 50 ppm, selama lebih kurang 4 jam.

3)   Streptococcus

Bakteri dari genus Streptococcus ini kadang-kadang menyebabkan penyakit pada ikan laut yang dibudidayakan, seperti ikan kerapu merah dan ikan beronang. Tanda-tanda dari infeksi penyakit ini biasanya tidak jelas, namun ikan terkadang terlihat lesu, tidak sehat, berenang tidak teratur dan pendarahan pada cornea. Biasanya penyakit ini diamati lewat pemerikasaan laboratories. Streptococcus sp termasuk bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik yang secara terus menerus dipergunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang lain.

Pencegahan dan pengobatan

Berikut adalah perlakuan pengobatan yang disarankan tes sensitivitas antibiotik. Adapun antibiotiknya adalah :

– Amphicilin 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 2 hari.

– Oxytetracycline 0,5 gram per kg makanan ikan untuk 7 hari.

– Erythromycin estolate 1,0 gram per kg makanan untuk 5 hari.

– Dapat juga menggunakan penicilin 3.000 unit per kg berat ikan yang disuntik secara intramascullar.

  1. Virus

Virus adalah patogen yang paling kecil. Ukurannya lebih kecil dari seperduapuluh kali besarnya bakteri. Virus menyerang mahluk hidup, berkembangbiak di dalam organisme inang dan pada saat itulah dia akan menyebabkan kerusakan ataupun penyakit pada organisme inang.

Virus sangat tahan terhadap segala jenis obat-obatan. Oleh karena itu, pemberantasan penyakit yang disebabkan oleh virus lebih ditekankan kepada upaya pencegahan dan membatasi penularannya. Salah satu virus yang telah diketahui menyerang ikan pada budidaya di laut adalah penyakit Symphocystis.

Penyakit Lymphocystis disebabkan oleh serangan virus yang termasuk famili Iridovirus. Virus Lymphocytis berbentuk partikel berbidang banyak dengan sekitar 0,13 – 0,26 mikron. Terdiri dari inti DNA yang dibungkus oleh lapisan protein.

Infeksi pada ikan yang terserang menyebabkan tumbuhnya sel jaringan. Sel yang dikenal menyebabkan tumbuhnya sel jaringan. Sel yang dikenal dengan nama Lymphocystis menyerupai butiran sagu. Kelompok dari sel tersebut membentuk tumor pada kulit dan sirip.

Ikan kakap putih merupakan ikan yang sangat rawan terhadap serangan virus ini. Virus ini juga terbukti sangat mudah menular dengan menggunakan air sebagai media penularannya. Oleh karena itu, ikan yang terserang harus segera dipindahkan dan dipisahkan dari ikan yang sehat.

Pada dasarnya, penyakit yang diakibatkan virus belum dapat ditanggulangi secara pasti. Namun demikian pencegahan dapat dilakukan dengan jalan vaksinasi dengan obat antibiotik. Masalahnya adalah hingga saat ini, obat/vaksinasi untuk penyakit ini belum tersedia atau sulit didapatkan di pasaran.

  1. V. DAFTAR PUSTAKA

Sneiszko, S.F. and Axelrod, H.R. 1971, Diseases of Fisheries T.F.H. Publications Hongkong.

Anonim, 1991, Usaha Penanggulangan Serangan Penyakit Pada Usaha Budidaya Laut/Rumput Laut, Dit Penyuluhan, Ditjen Perikanan.

Anonim, 1993, Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan Penyakit Ikan, Dit Sumber Hayati, Ditjen Perikanan.

Basyari, A, Danakusumah, E; T.I, Philip; Pramu; Mustahal dan Isra, M. 1988. Budidaya Ikan Beronang, Direktorat Jenderal Perikanan bekerjasama dengan International Development Research Centre.

Thanasomwong in Tiensongrusmee, Banchong, 1986, Culture of Marine Finish in Floating Netcage, INS/81/008/Manual/5.

  1. VI. SUMBER

Direktorat Bina Produksi, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 1996.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2011 in Artikel Ikan